Apakah kita pernah berfikir, siapa saja sih dibalik buku-buku pelajaran yang sering kita baca pas masih Sekolah dulu? Mengapa hanya penerbit buku yang itu-itu saja yang menjadi penerbit buku pelajaran?
Penerbit buku pelajaran di Indonesia terutama buku-buku
pelajaran untuk sekolah dasar dan menengah terdapat beberapa penerbit besar
seperti Gramedia, Erlangga, aneka Ilmu, titian ilmu, dan penerbit besar yang
lain. Buku-buku pelajaran memang dikuasai oleh penerbit-penerbit besar, karena
sistem penerbitan buku pelajaran masih menggunakan sistem lelang, dan
penerbit-penerbit yang mempunyai modal kuat yang mampu mengambil lelang
tersebut.
Namun dewasa ini ada beberapa kebijakan pemerintah yang
membuat penerbit-penerbit buku yang kecil mendapat angin segar, karena para
guru SD dan menengah dihimbau untuk menerbitkan buku untuk proses belajar
mengajar. Buku pegangan tidak lagi melulu terpusat namun bisa dikelola per
daerah bahkan per sekolah, asal masih sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Lain halnya untuk buku pelajaran di tingkat pendidikan
tinggi. Justru di bidang pelajaran pendidikan tinggi ini para pengajar dituntut
membuat buku dan buku ajar sama sekali tidak terpusat seperti di pendidikan SD
dan Menengah. Karena Dosen sebagai pengajar dituntut menerbitkan buku ajar atau
buku refrensi untuk meningkatkan kredit jika ingin lebih cepet naik pangkat.
Selain itu pendidikan tinggi memiliki diversivikasi ilmu yang lumayan banyak. Sehingga
tidak bisa jika dibuat terpusat. Dinamika perkembangan ilmu pengetahuan jenjang
perguruan tinggi sangat cepat, selain itu juga pada perguruan tinggi tidak
mengacu pada kurikulum tertentu melainkan mengacu pada kebutuhan perkembangan
ilmu secara global.
Oleh sebab itu, dalam dasawarsa terakhir semakin banyak
bermunculan penerbit-penerbit buku kecil menggunakan sistem self publishing
untuk memfasilitasi penerbitan buku pendidikan khususnya buku-buku perguruan
tinggi. Penerbit buku pelajaran tipe
self publishing ini sungguh membantu para pengajar yang tidak memiliki modal besar.
Juga penerbit buku self publishing membuat minat menulis para pengajar
meningkat, hal ini sangat berdampak bagus dalam perkembangan literasi
Indonesia.
Munculnya tren baru penerbit buku pelajaran dengan sistem self publishing membuat buku-buku pelajaran lebih variatif. Para siswa menjadi memiliki banyak pilihan dalam mencari refrensi belajar. Selain itu, pola pendidikan jaman sekarang tidak lagi pola pendidikan yang top-down. bukan lagi pola dimana murid hanya mendengar apa yang guru ajarkan didepan kelas, melainkan lebih diarahkan murid belajar dari mencari sendiri ilmunya dari berbagai refrensi, sang guru hanya mengarahkan. Guru pun jadi memiliki keleluasaan dalam mengajar jika guru tersebut yang membuat buku untuk pelajarannya sendiri. Sehingga suasana belajar jadi lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Demikian artikel tentang "Penerbit buku pelajaran" ini semoga bermanfaat. baca juga :
Penerbit Buku Novel di Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar